24 Juni 27 Tahun Lalu

24 juni 1990

Saat itu aku berumur 9 tahun. Sebulan sebelumnya, baru saja umurku 9 tahun.

Sebulan sebelumnya, aku merengek sama ibu. Ingin agar ulang tahunku dapat dirayakan, seperti teman2ku kala itu. Membagikan kartu undangan di sekolah, menyiapkan kue2, memakai baju cantik, menantikan kado2 yang khusus teman2ku bawa untukku, menjadi ratu sehari. Dan bapakku mengabulkannya.

Aku masih ingat. Betapa aku sangat bersemangat saat itu mempersiapkan segalanya. Dan hatiku sangaaaat bahagia saat itu. Karena keinginanku terkabul. Ya! Merayakan ulang tahun ku yg ke-9 dengan meriah. Semua itu karena bapakku.

Tapi siapa yang tahu, hal itu merupakan kado terakhir dari bapak untukku, putri bungsunya.

Sebulan kemudian. Aku yang saat itu masih terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi sungguh sangat kebingungan. Di hari minggu yang cerah itu, ibuku tampak sedih, panik, bingung. Kakak2ku pun demikian. Tetangga dekat kami sampai datang ke rumah.

Ya..bapak sakit...

Aku ingat, kakakku membawa baskom yang berisi muntahan bapak..darah..

Aku dan kakakku yang no 4 disuruh oleh tetanggaku untuk mencari es batu, katanya untuk meredakan sakitnya bapak. Berdua kami keliling mencari es batu. Setelah dapat bergegas kami pulang untuk segera memberikan es batu itu buat bapak. Berharap bapak berhenti mengeluarkan darah..

Lalu, saat itu bapak pun dibawa ke Rumah Sakit.. ibuku menemani Bapak. Aku di rumah, katanya kalau bapak sudah membaik aku boleh menyusul ibu.

Malamnya...tetanggaku datang, katanya aku disuruh ke RS untuk melihat bapak..tak mengerti dengan kondisi aku hanya menurut. Berharap saat aku tiba disana aku melihat bapak yang sudah membaik, dan ibu yang sudah bisa tersenyum lagi.

Namun..sesampainya aku di RS, kulihat bapak sudah terbujur kaku di tempat tidur, beberapa orang mendoakannya, teman2nya mungkin aku tak tahu..dan ibu..ibu duduk dengan mata yg memerah, hidung yg memerah dengan isakan tertahan.

Hari itu, Malam 24 Juni 1990, bapakku berpulang. Meninggalkan ibuku dan kami anak2 perempuannya.

Bapak..jujur aku tak terlalu dekat dengan bapak. Aku takut kalau bapak marah. Pernah, suatu ketika aku membuat rusak pulpennya bapak. Seharian aku ketakutan menanti bapak pulang dari kantor. Dan ketika pintu pagar berbunyi, Opel bapak menderu masuk halaman rumah, aku langsung lari ke balik pintu kamar ibu, karena takut dimarahi bapak. Kudengar bapak mencariku, namun setelah melihatku di balik pintu, beliau hanya menatapku tanpa berkata apa2. Mungkin bapak sudah kasihan melihatku yang ketakutan, jadi tidak jadi memarahiku..:')

Lalu, aku juga ingat bapak yang sering menjemputku waktu aku TK. Dengan naik vespanya. Bapak walau galak tapi juga senang guyon. Kalau isengnya kumat, bapak suka gelitikin aku pakai kumis tipisnya..:')

Bapak..aku tahu, walau terlihat kaku dan berkesan kurang dekat..tapi jauh di dalam hatinya, dia pasti menyayangi kami, anak2 perempuannya...

Dan jika saat ini dia ada disini, pasti dia bangga dengan ibuku yang telah berhasil membesarkan kami putri2nya, seorang diri. Pasti dia senang melihat cucu2nya yang pintar, apalagi cucu2 laki2nya..karena kata ibu dulu, bapak pengen punya anak laki2, biar bisa diajak main mobil2an..:')

Pak, we miss u a lot...Semoga Bapak dilapangkan kuburnya, diampuni dosa2nya..semoga kami bisa bertemu dengan bapak kembali kelak di Jannah-Nya...aamiin Allahumma aamiin...

I Love u, Dad..
Forgive me, daddy..:'(

24 Juni 2017
29 Ramadhan 1438 H
03.12 AM

0 komentar:

Posting Komentar